Awalnya saya pikir, masa-masa Pramuka itu sudah lewat. Dulu saya pernah jadi bagian dari pelatihan, sempat baris di tengah hujan, tidur di atas tikar plastik, dan mengajar adik-adik dengan penuh semangat. Tapi semua itu seperti tersimpan rapi di rak ingatan—tersenyum sendiri tiap kali ingatnya.
Lalu datanglah ajakan dari Kak Zamzani, Ketua Kwarcab Bangka.
Singkat, hangat, dan bermakna.
“Ayo Kak Ujang, bantu kami lagi. Tunjukkan semangat itu masih ada.”
Saya diam sesaat. Tapi dalam diam itu, ada sesuatu yang bergerak—seperti api kecil yang ditiup angin.
Ternyata, ruh Pramuka itu tak pernah mati. Ia hanya menunggu dipanggil kembali.
Dan sejak saat itu, langkah kaki ini kembali ringan menuju Kwarcab Bangka.
Tiap sudut sekretariat yang dulu terasa biasa, kini seperti punya cerita baru.
Tali-temali, papan nama yang mulai usang, hingga tenda-tenda yang sudah lama tak ditegakkan, semua seolah menyapa, “Selamat datang kembali, Kak…”
Saya sadar, ternyata bukan saya yang kembali. Tapi jiwa muda saya yang muncul lagi. ( Menolak Tua)
Semangat itu tumbuh sendiri, menyusup lewat celah waktu dan menyala seperti api unggun malam hari.
Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya tahu, dalam diri ini masih tersisa ikrar Dasa Dharma yang tak pernah lapuk.
Kini saya hadir bukan untuk mengatur, bukan pula menggurui.
Saya hanya ingin kembali menjadi bagian dari barisan.
Menjadi saksi bahwa Pramuka bukan hanya untuk yang muda usianya, tapi untuk yang mau terus muda semangatnya.
Dan selama saya masih bisa tersenyum, dan tertawa di depan tenda, maka saya tahu:
di sinilah tempat pulang saya.
Terima kasih Kak Zamzani.
Terima kasih Kwarcab Bangka.
Saya pulang, bukan sebagai pahlawan.
Tapi sebagai kakak… yang tak pernah benar-benar pergi.
Salam Pramuka!




Tinggalkan komentar